8 Rangkaian Acara Pernikahan Adat Tionghoa

Rangkaian pernikahan adat Chinese merupakan prosesi yang terbilang cukup panjang, akan tetapi biasanya dilakukan di hari yang bersamaan dengan pemberkatan pernikahan di gereja/ vihara. Hal yang mendetail lainnya mengenai pernikahan ini adalah adanya perhitungan hari, tanggal, dan waktu yang baik untuk setiap upacara.

Rangkaian acara terdiri dari 8 rangkaian prosesi seperti di bawah ini:

1. Prosesi persiapan CPW dan CPP

Ini merupakan awal dari rangkaian acara pernikahan adat Tionghoa dan dilakukan oleh CPP dan CPW di rumah mereka masing-masing. Untuk CPW, orang tuanya akan memberikan boutonniere milik CPP kepada CPW dan juga akan menutup veil-nya. Sedangkan CPP akan mendapatkan hand bouquet milik CPW dan orang tuanya akan membantu untuk memasangkan jas.

2. Prosesi kedatangan CPP

Pada pernikahan adat Tionghoa, CPW haruslah dijemput oleh CPP. CPP akan datang bersama dengan para groomsmen. Pada saat CPP tiba, seorang anak kecil dari pihak CPW harus membukakan pintu mobil dan memberikan sebuah jeruk kepada CPP. Anak kecil tersebut akan diberikan angpao oleh CPP.

CPW akan disambut oleh sepasang suami istri dari pihak CPW, dan pasangan tersebut akan mengantarkan CPP ke orang tua CPW. Pada saat bertemu dengan orang tua CPW, CPP harus memberi hormat dengan membungkuk sebanyak 3 kali. Kemudian orang tua CPW akan mengantarkan CPP ke kamar di mana CPW sedang menunggu. Akan tetapi sebelum bertemu dengan CPW, CPP harus menjalani rintangan terlebih dahulu. Biasanya para bridesmaids dan keluarga dari pihak CPW akan mengerjai mereka dengan beberapa games. Contoh games yang biasa dimainkan adalah menirukan gaya Psy dengan iringan lagu Oppa Gangnam Style, atau menebak cap bibir milik CPW.

3. Prosesi pertemuan antara CPP dan CPW

Setelah melalui beberapa rintangan yang sudah disiapkan, inilah saatnya CPP untuk bertemu dengan CPW. Orang tua CPW akan menuntun CPP untuk berjalan ke arah CPW. Akan tetapi ada 2 versi yang masih sering dilakukan untuk prosesi ini. Pada kebanyakan pernikahan di Surabaya, CPP dan CPW harus membelakangi satu sama lain dan pada saat punggung bertemu punggung, mereka akan saling berbalik. Sedangkan pada kebanyakan pernikahan di Jakarta, CPP dan CPW harus saling bertemu muka pada saat CPP masuk ke kamar tersebut. Prosesi dilanjutkan dengan bertukar hand bouquet dan boutonniere, dilanjutkan dengan CPP yang membuka veil CPW.

4. Prosesi di rumah keluarga CPW

Rangkaian acara pun masih berlanjut dengan makan ronde bersama di rumah CPW. Ronde melambangan kehidupan pernikahan yang lengket, erat, dan susah terpisahkan. Sedangkan kuah ronde melambangkan kehidupan pernikahan yang manis. Apabila CPW memiliki kakak  yang belum menikah, maka harus ada prosesi pengguntingan pita merah. Gunting tersebut harus disediakan oleh pasangan yang menikah dan diberikan pada saat sangjit atau upacara seserahan yang biasanya dilakukan 1 minggu sebelum pernikahan. Selain itu, calon pengantin harus memberikan hadiah berupa sesuatu yang bisa dikenakan kepada kakak CPW. Setelah menggunting pita merah, kakak perempuan harus berjalan lurus hingga perempatan jalan tanpa berbalik. Hal ini dipercaya akan mengentengkan jodoh sang kakak

5. Prosesi perjalanan kembali ke rumah

Setelah acara di rumah keluarga CPW berakhir, maka inilah saatnya untuk calon pengantin kembali ke rumah CPP untuk prosesi adat selanjutnya. Pantang untuk mobil pengantin berjalan mundur pada saat prosesi ini.

6. Prosesi di rumah keluarga CPP

Sama seperti di rumah keluarga CPW, calon pengantin harus disambut oleh pasangan suami istri yang berbahagia, tetapi kali ini dari pihak CPP. Pasangan suami istri tersebut akan mengantarkan calon pengantin kepada orang tua CPP dan CPP harus memberi hormat dengan membungkuk sebanyak 3 kali. Orang tua CPP pun akan menggandeng calon pengantin untuk mengantarkan mereka ke kamar pengantin yang sudah dipersiapkan. Di atas tempat tidur harus disiapkan ShuangXi (double happiness), apel, jeruk, boneka, kalendar dan permen.

Acara pun dilanjutkan dengan makan misua bersama. Misua merupakan sejenis mie yang sangat tipis, bertekstur halus, dan biasanya sangat panjang. Misua melambangkan kehidupan pernikahan yang panjang dan tak terputus. Misua biasanya akan dihidangkan dengan telur merah. Telur merupakan lambang keturunan dan merah merupakan warna keberuntungan untuk kalangan Tionghoa.

7. Prosesi keluar rumah CPP

Prosesi ini biasanya dilakukan sebelum calon pengantin menuju rumah ibadah di mana mereka akan diresmikan secara agama. Pada saat calon pengantin keluar dari rumah, makan ibu dari CPP akan melemparkan saweran sambil mengucapkan doa-doa yang baik untuk calon pengantin, sedangkan sang ayah akan memegang payung merah. Saweran terdiri dari beras kuning, kacang hijau, koin, dan permen. Prosesi ini melambangkan restu dan doa orang tua agar kehidupan pernikahan selalu berjalan dengan baik, penuh rezeki, dan selalu berkelimpahan.

8. Prosesi Tea Pai

Prosesi ini biasanya dilakukan sesudah acara pemberkatan secara agama dan sebelum resepsi pernikahan. Prosesi tea pai ini merupakan salah satu bentuk penghormatan kepada yang dituakan dengan cara menyuguhkan teh.

Pihak yang disuguhkan teh dimulai dari keluarga pihak lelaki dan diawali dari orang tua. Setelah itu dilanjutkan dengan kerabat dan saudara yang sudah menikah. Pada saat yang dilayani adalah keluarga pihak lelaki, maka pengantin perempuan lah yang menyuguhkan teh, begitu pula sebaliknya. Biasanya pengantin akan diberikan angpao atau perhiasan oleh pihak-pihak yang disuguhkan teh.

Pada acara ini juga terdapat prosesi tepuk angpao, di mana orang tua akan memasukkan angpao-angpao yang diperoleh pada acara tea pai di setiap kantong jas/ kemeja pengantin pria. Hal ini melambangkan agar pengantin memiliki kondisi finansial yang bagus ke depannya dan tidak ada yang kosong. Prosesi tea pai ini ditutup dengan pembagian angpao kepada saudara yang belum menikah.

 

sumber : http://thebridedept.com/8-rangkaian-pernikahan-adat-tionghoa/